Dilema Mahasiswa Urban


Diposting pada 28 February 2018, pukul 8:26 am



Apakah gunanya pendidikan
Bila hanya akan membuat seseorang menjadi asing

Di tengah kenyataan persoalan?
Apakah gunanya pendidikan
Bila hanya mendorong seseorang
Menjadi layang-layang di ibukota
Kikuk pulang ke daerahnya?
Apakah gunanya seseorang
Belajar filsafat,teknologi,ilmu kedokteran,atau apa saja.
Ketika ia pulang ke daerahnya,lalu berkata :
“disini aku merasa asing dan sepi”

Sajak Rendra yang berjudul “Seonggok Jagung” ini mengingatkanku dengan salah satu pesan dosenku, “Setelah wisuda, kalian harus pulang dan bangun daerah kalian masing-masing” –ujar beliau. Materi ini tidak tersurat di slide mata kuliah manapun, tapi bobotnya melebihi 3 sks perkuliahan menurutku. Karena ilmu ini harus di jewantahkan langsung didunia nyata oleh seorang Sarjana. Berat? Ya tentu saja.

Mungkin terdengar simple, tapi tidak semua bisa mengimplementasikannya. Nyatanya, idealisme mahasiswa urban semakin hari semakin tergerus zaman. Melebur bersama realita yang kadang tidak berpihak padanya.

“Halaah… Udah! Kerja di kota aja, enak. Gak usah mikirin pembangunan daerah blablabla”. Pasti ada saja yang berpikiran begitu. Karena memang nyatanya zona nyaman itu melenakan. Sarjana pulang ke kampung halaman adalah prasangka baik yang disematkan kepada mahasiswa urban yang baru melepas predikat ke-maha-an-nya. Begitu girangnya masyarakat mengetahui bahwa salah satu tetangganya telah di wisuda. Itu berarti ada secercah harapan perubahan kedepan,

Tapi, nyatanya?

Kehidupan kota yang mapan akan fasilitas serta kemewahan pun menjadi tawaran yang menggiurkan. Orang malas pulang ke desa karena tidak ada apa-apa disana, kecuali kedamaian, pikirnya. Kemudian apa yang dilakukan? Menyediakan makanan bagi orang kota dan desa disia-siakan. Tapi, rasa-rasanya peradaban seperti itu membuat kesenjangan semakin lebar. Kau boleh tidak setuju, ini pendapatku.

Sebagian besar mahasiswa urban (salah satunya saya) menganggap kota adalah kenyamanan untuk tempat hidup selanjutnya. Fasilitas lengkap, lapangan kerja banyak dan tektek-bengek atribut mewah lainnya adalah godaan yang meninabobo-kan sarjana agar menutup mata dari kesenjangan realita. Desa dianggap bukan tempat yang tepat untuk menerapkan ilmu dan pengalaman yang didapat selama kuliah atau relasi di kota. Imbasnya ketika pulang ke desa, celingak-celinguk bingung mau ngapain.

Belum lagi paradigma negatif tentang masyarakat desa yang katanya ‘Ndeso’ lah, cacat pemikiran lah, atau susah beradaptasi dengan perubahan zaman, moderniasasi, globalisasi dan –isasi-isasi lainnya, ini semakin membuat si orang yang katanya ‘berpendidikan’ malas tinggal di kampung halaman dan bertahan di zona nyaman, kemudian berfikir yang penting “saya aman”.

Gap intelektual antar masyarakat juga berpengaruh terhadap ke-enggan-an si sarjana pulang ke kampung halaman. Karena mereka harus beradaptasi kembali dengan membawa ilmu yang didapat untuk kemudian di implementasikan kepada masyarakat yang notabene kurang beruntung mendapatkan pendidikan tinggi.

Coba, seberapa besar minat masyarakat desa untuk kuliah? Alasan utama ketika tidak melanjutkan pendidikan pasti karena faktor ekonomi. Semakin tinggi tingkat ekonomi keluarga, semakin tinggi pula tingkat pendidikan anaknya. Dan kaum urban akademik bermodal lah yang beruntung mendapatkan pendidikan itu.

Perguruan tinggi hanya ada di kota, minimal kabupaten. Tapi, untuk kampus kelas satu, adanya di ibu kota provinsi. Hasrat menuntut ilmu yang meletup tak terpenuhi di kampung halaman, atau kota kabupaten sekalipun. Jadi harus ke kota besar tempat kampus bergengsi itu berdiri. Otomatis harus ada ongkos untuk pergi kesana, bukan?

Modal yang kerap tidak sedikit ini membuat orang tua mahasiswa urban mengerutkan dahi menjelang deadline pembayaran. Histori akademis kalian belum bisa dibilang dramatis kalau belum berhadapan dengan masalah telat bayaran, dalam arti, benar-benar telat bayaran karena memang belum ada uang, beda halnya ketika ada tapi dipakai untuk kepentingan lain.

Di kota pula para mahasiswa membangun relasi. Bagaimana kemudian relasi itu bisa menaikkan status sosial dan mendapat penghasilan yang lumayan bagi keberlangsungan hidup. Ikatan perkoncoan masih dianggap sebagai faktor yang menentukan kesuksesan seseorang. Paradigma bahwa orang tak bisa sukses sendirian sering dipahami dalam jaringan ini. Namun, apa selamanya kita berkalang ke circle perkoncoan tersebut?

Perbedaan domisili antar anggota dalam circle ini mengharuskan mereka kembali ke asalnya masing-masing. Hal ini yang akan membuktikan apakah mahasiswa benar-benar berdikari setelah wisuda? Pribahasa “sangkan paraning dumadi”, yang berarti dari mana berasal dan akan ke mana, menggiring kita kepada sebuah kesadaran bahwa mereka yang berasal dari desa dan harus kembali ke desa, untuk membangun, memberi sentuhan “peradaban kota” tanpa kehilangan kekhasannya.

Namun, masalahnya ada di paragraf ketiga diatas. Entahlah saya sendiri kadang bertanya-tanya, apa tujuan mahasiswa kuliah? Kalau dengar jawaban “untuk belajar, menuntut ilmu”, itu terkesan melankolik. Karena nyatanya, ketika mahasiswa yang dapat nilai jelek, ngulang, atau tidak lancar dalam studinya kadang berkeluh kesah, bukankah itu salahsatu proses pembelajaran? Iya, belajar sabar..

Jawaban paling rasional ketika ditanya seperti itu adalah untuk mencari kerja. Kita tidak bisa menafikan lagi, realita yang terus bergulir menggerus idealisme mahasiswa urban. Terlebih orang-orang di kampung halaman itu memandang kesuksesan dengan tolak ukur penglihatan. Seorang dikatakan “sukses” apabila sudah berpangkat, mempunyai jabatan, dan imej-imej perlente lainnya.

Dilema? Iya.. Ketika lulus pun saya akan berhadapan dengan pilihan, meningkatkan taraf hidup keluarga, membangun daerah, atau bertahan di zona nyaman? Kontribusi apa yang nantinya saya beri untuk bangsa ini? Ah, jangan dulu ngomongin bangsa deh, ketinggian! Dilingkungan saya, dan entitas-entitas yang berhubungan dengan saya saja dulu, sudah memberi apa saya?

Kiranya tulisan ini bisa menjadi cambuk untuk diri saya sendiri, sudah sebermanfaat apa saya sebagai manusia? Perkara dilema, biarlah itu menjadi urusan saya. Sebagai makhluk yang diberi kelebihan berupa akal, saya berharap itu bisa digunakan dengan sebaik-baiknya dan seadil-adilnya untuk kepentingan orang banyak. Meskipun dalam prakteknya banyak hambatan.

WS Rendra menggiring saya menyadari gunanya pendidikan, Apakah gunanya seseorang belajar filsafat, teknologi, ilmu kedokteran, atau apa saja. Ketika ia pulang ke daerahnya, lalu berkata “disini aku merasa asing dan sepi”. Semoga ketika saya pulang membawa Titel Sarjana tidak merasa asing dan sepi, semoga..

 

-Anonim




Kontak

Jika butuh bantuan atau ada yang ditanyakan anda dapat menghubungi kami dengan cara mengirim pesan melalui :

  • hmtif@unpas.ac.id
  • HMTIF Unpas
  • @HMTIFunpas
  • @hmtifunpas

Aspirasi