Implikasi Isra Mi’raj Dalam Kehidupan di Era Kekinian


Diposting pada 14 April 2018, pukul 4:52 pm



Tanggal 27 Rajab dikenal sebagai hari Isra Mi’raj atau salah satu hari besar yang dirayakan umat Islam tiap tahunnya. Pada tanggal tersebut berlangsung fenomena penting, yaitu Isra dan Mi’raj Nabi Muhammad SAW. Sebagaimana yang termaktub dalam Quran Surat Al-Isra Ayat 1: “Maha Suci Allah, yang telah memperjalankan hamba-Nya pada suatu malam dari Al Masjidil Haram ke Al Masjidil Aqsha yang telah Kami berkahi sekelilingnya agar Kami perlihatkan kepadanya sebagian dari tanda-tanda (kebesaran) Kami. Sesungguhnya Dia adalah Maha Mendengar lagi Maha Melihat”.

Dari ayat tersebut menggambarkan bagaimana kemahakuasaan Allah SWT yang telah memperjalankan hamba-Nya (Muhammad SAW) dari Masjidil Haram di Makkah menuju ke Masjidil Aqsha di Palestina hanya dalam waktu 1 malam. Tentu kejadian ini tidak dapat diterima secara akal sehat manusia, mengingat jarak antara Makkah dan Palestina yang sangat jauh. Terlebih lagi perjalanan tersebut dilanjutkan menuju ke Sidratul Muntaha, yang terjadi pada malam itu juga. Suatu hal yang mustahil dan mengada-ada untuk zaman saat itu.

Dalam masyarakat modern, manusia lebih banyak tidak dapat menerima suatu kejadian tanpa adanya pembuktian secara ilmiah.  Mungkin didalamnya termasuk juga peristiwa Isra Mi’raj. Sesuai kodrat manusia sebagai makhluk yang berakal, fenomena luar biasa itu melahirkan rasa keingintahuan, bagaimana mekanisme berlangsungnya perjalanan Isra Mi’raj itu?  Serta dimana gerangan langit ke tujuh dan tempat tertinggi Sidratul Muntaha? Pertanyaan serupa juga pernah mencuak pada beberapa abad silam, dimana pada saat itu manusia masih sukar membayangkan sosok benda langit pengisi alam semesta dan dimensi ruang angkasa yang sangat luas.

Kemudian berbagai hipotesis pun muncul, tidak mungkin terjadi dalam waktu satu malam perjalanan yang sangat jauh sekalipun menggunakan alat transportasi yang super cepat. Terlebih lagi peristiwa itu terjadi pada zaman dimana teknologi belum sehebat seperti zaman sekarang ini. Tak sedikit juga yang mengecap Nabi Muhammad sebagai ‘orang gila’. Fenomena Isra Mi’raj ini sangat multi dimensi dan menarik banyak perhatian. Oleh karena itu, menggali hikmah Isra’ Mi’raj merupakan upaya yang tak habis-habisnya sepanjang zaman.

  • Isra Mi’raj Sebagai Sejarah Sakral & Nilai Kemanusiaan

Dalam konteks inilah, peristiwa Isra Mi’raj bukan sekedar diperingati sebagai rutinitas keagamaan secara biasa, namun sakral dan sarat makna didalamnya bagi kehidupan umat manusia. Kembalinya Muhammad SAW dari perjalanan maha dahsyat itu menjadi trigger yang menggerakannya untuk “mendandani” realitas sosial zaman jahiliayah.

Dengan buah tangan Isra’ Mi’raj berupa Sholat, Rasulullah mengubah sosio-kultural masyarakat Arab saat itu. Perintah sholat yang dibawa juga membawa banyak simbol kemanusiaan. Salah satunya dalam QS. Al-Ankabut ayat 45; yang maknanya untuk mencegah perbuatan keji dan mungkar. Tanpa fungsi ini, sholat hanya sia-sia belaka.

Dampaknya pola perilaku masyarakat zaman jahiliyah yang suka berperang, suka membunuh anak perempuan, suka mabuk-mabukan berubah menjadi masyarakat yang progresif, intelektual, dan terpelajar. Jika kita bandingkan dengan kondisi saat ini, apabila kita masih menyaksikan ketidakadilan, kemiskinan, kesenjangan sosial, korupsi, kelaparan, dan patologi sosial lainnya yang merajalela, mungkin ada baiknya kita berkaca, sudahkah kita sholat secara baik dan benar? Sudah kita mampu mengejewantahkan fungsi substantif sholat di tengah krisis sosial belakangan ini? Implikasi sholat ternyata bukan sekedar hubungan manusia dengan Tuhannya saja, tapi lebih dari itu, manusia seperti menapaki jalan kehidupan spiritual yang mentransfer nilai-nilai kemanusiaan dalam dimensi yang lebih luas.

Betapa pentingnya ibadah sholat sehingga Allah SWT langsung menyampaikannya kepada Rasulullah, tanpa melalui perantara. Bahkan, setiap muslim dapat mengalami Mi’raj ketika ia sholat. Karena sholat adalah amal ibadah yang sakral, dapat memberi kesempatan kepada kita untuk menanggalkan sifat kemanusiaan kita, menghadapkan hati dan pikiran kita hanya kepada Allah SWT. Tentu saja bukan bertemu secara fisik, melainkan melihat dengan mata hati serta merasakan kehadiran-Nya secara intuitif.

  • Manusia Sebagai Makhluk Sosial dan Spiritual

Pola peristiwa Isra’ yakni Perjalanan Horizontal: dari Masjidil Haram ke Masjidil Aqsha, atau bisa disebut ‘Hijrah’, hijrah artinya berpindah.  Bisa diterjemahkan dalam hal ini, kita menyikapi kehidupan perlu ‘mencari’ dengan melakukan ‘perjalanan’, dalam proses pencarian tersebut kita berpindah untuk menuju kualitas hidup yang lebih baik.

Dan masjid yang merupakan “simbol” pusat kegiatan keagamaan umat Islam, harus pula ditransformasikan nilai-nilainya di tengah kehidupan sosial atau kemasyarakatan secara nyata. Umat Islam harus mampu membangun relasi sosial (hablun minan-nas) yang harmonis di tengah-tengah kehidupan. Dengan kata lain, kualitas keislaman seseorang tidak cukup hanya diukur ketika ia berada di dalam masjid. Akan tetapi, bagaimana nilai-nilai ibadah dan kekhusyukan yang telah dilakukannya di dalam masjid itu, diwujudkan pula di luar masjid, yakni ketika berada di lingkungan kerja maupun di tengah-tengah masyarakatnya, melalui jalinan interaksi dan komunikasi yang baik dengan sesama. Ini yang disebut dengan “kesalehan sosial”. Sebab, tidak jarang sewaktu berada di dalam masjid seseorang tampak khusyuk beribadah, namun begitu keluar masjid, nilai-nilai kekhusyukan ibadahnya itu ditanggalkan. Akibatnya, di lingkungan masyarakatnya masih kerap melakukan prilaku-prilaku yang justru bertentangan dengan nilai-nilai ibadah yang telah dilakukan.

Mi’raj adalah Perjalanan vertikal: dari bumi ke Sidratul Muntaha, ini diluar nalar manusia, bagaimana mungkin perjalanan itu bisa terjadi? Sebab itulah dimensi spiritualitas merupakan paham dan penghayatan pada dasar dalam diri manusia sendiri. Bisa jadi masyarakat modern saat ini memiliki transportasi canggih dan merasa telah melanglangbuana, bahkan sebagian telah melakukan perjalanan ke planet lain. Namun, amat mungkin masih miskin pengembaraannya dalam mengenal dimensi batinnya bahwa ia adalah makhluk spiritual.

Sebagaimana yang disebutkan sejarah pula, Rasulullah menunggangi kendaraan bernama Buraq yang digadang-gadang sebagai kendaraan tercepat kala itu. Lantas dizaman yang se-modern ini, dan ilmuwan semakin banyak, apakah ada teknologi yang bisa menandingi buraq tersebut? Kaum empirisis dan rasionalis yang melepaskan diri dari bimbingan wahyu, dapat saja menggugat: Bagaimana mungkin kecepatan, yang bahkan melebihi kecepatan cahaya, kecepatan yang merupakan batas kecepatan tertinggi dalam continuum empat dimensi ini, dapat terjadi? Bagaimana mungkin lingkungan material yang dilalui oleh Muhammad SAW tidak mengakibatkan gesekan-gesekan panas yang merusak tubuh beliau sendiri? Bagaimana mungkin beliau dapat melepaskan diri dari daya tarik bumi? Ini tidak mungkin terjadi, karena ia tidak sesuai dengan hukum-hukum alam, tidak dapat dijangkau oleh pancaindera, bahkan tidak dapat dibuktikan oleh patokan-patokan logika. Seperti itulah kira-kira mereka yang menolak peristiwa ini. Ini tampak semakin jelas jika diingat bahwa asas filosofis dari ilmu pengetahuan adalah “trial and error”, yakni observasi dan eksperimentasi terhadap fenomena-fenomena alam yang berlaku di setiap tempat dan waktu, oleh siapa saja. Padahal, peristiwa IsraMi’raj hanya terjadi sekali saja. Artinya, terhadapnya tidak dapat dicoba, diamati dan dilakukan eksperimentasi.

Dizaman sekarang, sholat adalah kendaraan untuk melakukan perjalanan vertikal menuju Tuhan. Jika kita menerka-nerka destinasi perjalanan tersebut dengan logika, niscaya tidak akan sampai dengan kemampuan manusia. Mengutip kata Sujiwo Tejo, “Tangga menuju langit adalah kepalamu, maka letakkanlah kakimu diatas kepalamu. Untuk mencapai Tuhan, injak-injaklah pikiran dan kesombongan rasionalmu.”

  • Isra Mi’raj dalam Perspektif Psikologis

Kesedihan yang dialami Rasulullah akibat meninggalnya orang terkasih, istri beliau Khadijah dan paman beliau Abu Thalib, kemudian boikot (embargo) ekonomi menyebabkan krisis pangan bagi umat Islam, dan ditolaknya hubungan kerjasama dengan beberapa kabilah lain memiliki dampak cukup besar pada psikis Nabi yang merupakan tahun duka citanya.

Dengan latar belakang inilah Nabi di-Isra’ Mi’raj-kan. Ini membuat peristiwa Isra’ Mi’raj menjadi semacam wisata spiritual. Wisata spiritual  ini berusaha menegaskan, bahwa kekuatan, ketabahan, harapan dan tantangan, sedikit banyak dapat ditanggulangi oleh peningkatan spiritualitas. Ketika seseorang berada dalam himpitan hidup ia perlu melakukan perjalanan spiritual untuk membuka mata batinnya mengenai harapan dan perjuangan.

Pun begitu dalam konteks kehidupan sehari-hari, ini bisa diterjemahkan bahwa tekanan-tekanan kehidupan yang kita alami perlu dicarikan katarsis (pembaruan rohani) agar jiwa kita menjadi segar kembali. Kegiatan rekreatif / hiburan perlu dilakukan jika kita mengalami stress, salah satunya dengan melakukan perjalanan spiritual.

  • Isra Mi’raj Sebagai Bentuk Pengakuan Manusia

Peristiwa Isra’ Mi’raj membuktikan kekuasaan Allah yang tidak dapat dibatasi oleh ruang dan waktu. Sederet keberatan ilmiah akan muncul jika kita mencoba mendekatinya dengan ilmu pengetahuan, namun semestinya kita menyisakan ruang dalam hati untuk mempercayai dan mengimaninya. Peristiwa Isra’ Mi’raj yang bernuansa ruhaniah itu mendorong manusia untuk melakukan hubungan dengan Allah secara intim melalui ritual sholat, hal itu adalah sebuah ujian keimanan. Manusia tidak hanya ditantang dengan tanda-tanda kekuasaan Tuhan yang tampak, sekaligus Tuhan juga menyodorkan tangan-Nya berupa tanda-tanda kekuasaan yang jauh di luar jangkauan manusia.

Dan sholat adalah bukti pengakuan itu. Sholat juga merupakan kebutuhan jiwa. Karena, tidak seorang pun dalam perjalanan hidupnya yang tidak pernah mengharap atau merasa cemas. Hingga, pada akhirnya, sadar atau tidak, manusia menyampaikan harapan dan keluhannya kepada Dia Yang Maha Kuasa.

***

Peristiwa lsra’ Mi’raj Nabi Muhammad SAW sudah berlangsung berabad-abad yang Iampau, akan tetapi esensi peristiwa tersebut tetap relevan dengan kondisi kekinian, karena pesan lsra’ Mi’raj penuh dengan nilai-nilai universal yang tidak lekang oleh zaman.

Hal menarik yang perlu kita cermati adalah acara peringatan Isra’ Mi’raj yang kerap diadakan di pelbagai tempat, di masjid-masjid maupun forum kajian. Secara umum, acara itu dinamai dengan “Peringatan Isra’ Mi’raj Nabi Muhammad SAW.” Demikian konten acaranya yang sering tidak jauh berbeda, antara satu penceramah dengan penceramah lain yang mengisahkan peristiwa ajaib; Isra’ Mi’raj. Dengan template default tersebut, bukan berarti kisah Isra Mi’raj tidak menarik untuk dibahas. Justru berangkat dari kisah tersebut kita jadi terpicu untuk mengimplementasikannya di era kekinian, yakni dengan berhijrah, mengaktualisasikan diri ini menjadi kian baik dari hari sebelumnya. Melakukan perjalanan batin vertikal dan horizontal. Karena perubahan individu adalah tahap pertama yang sangat penting untuk menciptakan perubahan-perubahan besar lainnya. Waktu akan terus bergulir, seiring umur kita yang kian merayap, tanpa kita sadari perputaran waktu itu adalah sebuah kepastian. Mulailah perubahan itu dari diri sendiri, dari hal kecil, dari sekarang.

Semoga saja, tulisan yang penulis adopsi dari berbagai pendapat ini, memberikan pencerahan kepada kita semua terutama diri penulis sendiri untuk kembali memaknai hakekat Isra’ Mi’raj dan implikasinya dalam kehidupan di era kekinian, serta mampu meretas belenggu pemahaman parsial menjadi pemahaman kolektif dari sisi keshalehannya. Amiin.

Semoga bermanfaat 🙂

 

Sebagian materi mengutip dari:

Kajian Ust. Taufik (12/4/2018)

https://nasional.kompas.com/read/Menteri.Agama.Esensi.Isra.Miraj.Membangun.Peradaban.

http://khazanah.republika.co.id
http://kajianislammasakini.blogspot.co.id




Kontak

Jika butuh bantuan atau ada yang ditanyakan anda dapat menghubungi kami dengan cara mengirim pesan melalui :

  • hmtif@unpas.ac.id
  • HMTIF Unpas
  • @HMTIFunpas
  • @hmtifunpas

Aspirasi