Kepada Mahasiswa Aku Bertanya, Kemanakah Arah Tri Dharma Kita?


Diposting pada 7 May 2018, pukul 9:13 am



Kalau boleh mengumpamakan kampus sebagai sebuah miniatur Indonesia, maka didalamnya terdapat masyarakat heterogen dari Sabang sampai Merauke. Berbagai karakter menyatu dalam satu wadah. Kampus adalah tempat bagi mahasiswa untuk belajar, mengemban ilmu berdasarkan core competence-nya masing-masing yang punya 3 kewajiban utama Perguruan Tinggi.

Namun dewasa ini, topik pembicaraan tentang Tri Dharma Perguruan Tinggi seperti kurang menarik perhatian mahasiswa. Bahkan (mungkin) ada yang memandang 3 kewajiban itu bagaikan ‘stranger thing’. Padahal jauh-jauh hari, Pemerintah melalui Undang-Undang No. 22 tahun 1961 tentang Perguruan Tinggi telah mencanangkan; Menyatunya perguruan tinggi dengan masyarakat kemudian dilembagakan dalam bentuk Tri dharma Perguruan Tinggi yang didalamnya ada Pendidikan, Penelitian, dan Pengabdian kepada Masyarakat.

Dengan pendidikan, mahasiswa punya dasar berpikir dalam memutuskan berbagai hal didunia kampus maupun pasca kampus. Pola pikir yang terbentuk yaitu berdasarkan proses pembelajaran dan pengalaman pribadi mahasiswa itu sendiri. Pendidikan adalah pertukaran pikiran antara pengajar dan pembelajar. Dalam ranah perguruan tinggi, misalnya mahasiswa dan dosen atau tenaga pendidik. Jauh sebelum masa kemerdekaan bangsa Indonesia, dua elemen ini sangat berpengaruh dalam merumuskan cita-cita masa depan bangsa.

Dimasa sekarang, bagaimana kabar pendidikan hari ini? Sudahkah kita (mahasiswa) mengenyam pendidikan dengan sebaik-baiknya?

Harus diakui aku bukan maha akademis yang khatam menelan semua teori keilmuan. Pendidikan yang kudapat tidak seberapa ini adalah tanggung jawab, ya, karena ilmu tak akan menjadi ilmu bila kebermanfaatanya dipertanyakan.

Kadangkala aku pun gemas melihat mahasiswa yang terlalu menjadi study oriented atau lebih spesifiknya IPK oriented, sebab diakui atau tidak, hal itu telah menjauhkan mahasiswa dari aktivitas politik, mengkritisi kebijakan penguasa, dan tidak jarang masa bodo dengan lingkungan sekitar. Inilah hal-hal yang membuat maha akademis (walaupun tidak semuanya) seperti mengalami depolitisasi dan lebih memilih main aman. Maaf, bukan bermaksud mendiskreditkan, hanya menyayangkan, padahal pendidikan disini bukan terbatas tembok akademis saja, melainkan apa-apa yang ada didalam kampus adalah wadah pembelajaran. Kita tidak bisa menyalahkan dan memandang dengan sebelah mata mereka yang mengagungkan studinya, karena sedikit banyak telah memberikan sumbangsihnya, berupa apa? Prestasi akademik. Nilai yang bagus telah menyelamatkan citra kampus sebagai lembaga pendidikan.

Kepada mahasiswa, aku bertanya, pendidikan seperti apa yang sudah kita dapat? Pendidikan yang menyelamatkan kita melalui transkrip nilai, atau pendidikan yang sudah dirasa kebermanfaatannya?

Point kedua dari tri dharma itu adalah penelitian. Mahasiswa dalam menuntut ilmu diharapkan tidak hanya sebatas tahu, namun mengerti dan mampu menjadi konseptor perkembangan zaman di masa depan. Penelitian dan pengembangan adalah aktivitas jantungnya civitas akademika. Perguruan tinggi tanpa adanya penelitian akan dianggap sebagai perguruan tinggi yang tidak produktif. Pentingnya sebuah penelitan dan pengembangan juga terletak pada updatenya  keilmuan. Kampus dituntut melahirkan problem solving sehingga mahasiswa mau tidak mau harus lebih cepat merespon isu-isu global, memberikan pencerahan, penjelasan dan sikap yang tepat untuk masyarakat mengenai apa yang sedang terjadi.

Bentuk penelitian macam-macam, seperti karya tulis ilmiah, kerja praktek maupun tugas akhir. Setiap fakultas dan jurusan masing-masing telah merancang sebuah master plan bagi anak didiknya, baik itu berupa pengembangan dalam hal teknologi maupun pengembangan-pengembangan yang lain. Pengembangan inilah yang kemudian akan diujikan, bagaimana pengimplementasian ilmu secara riil dalam sebuah studi kasus.

Kepada mahasiswa, aku bertanya, bentuk penelitian seperti apa yang sudah kita lakukan? Penelitian yang mengantarkan kita menjadi pemecah masalah kehidupan, atau penelitian yang hanya akan mengganti predikat kita dari ‘mahasiswa’ menjadi ‘sarjana’?

Dan point terakhir yang menurutku paling berat, Pengabdian masyarakat. Pengabdian inilah bagaimana para akademisi mempraktikkan ilmu-ilmu yang telah dipelajari di kampus ke dunia nyata. Bentuk aplikatifnya dengan cara mengeksplore keilmuan melalui aksi-aksi nyata yang bermanfaat bagi orang banyak. Pengabdian ini nilai kebermanfaatannya lebih-lebih dari dharma pendidikan maupun penelitian. Kepada mahasiswa aku bertanya, kemanakah arah pengabdian kita? Kemanakah arah tri dharma kita?

Semoga hati nurani kita bisa menjawabnya 🙂




Kontak

Jika butuh bantuan atau ada yang ditanyakan anda dapat menghubungi kami dengan cara mengirim pesan melalui :

  • hmtif@unpas.ac.id
  • HMTIF Unpas
  • @HMTIFunpas
  • @hmtifunpas

Aspirasi